SEF Berkarya

Tanpa Riba, Hidup Bahagia

Oleh: Nisa Aryani (Sekretaris Umum, SEF UGM)

Kisah ini bermula ketika ada sebuah keluarga kecil yang datang ke desa, sebut saja Keluarga Handi. Mereka terdiri atas Ayah, Ibu, dan seorang anak yang masih kelas satu sekolah dasar. Sebelum ini, keluarga Handi hidup berkecukupan. Pak Handi namanya, sebagai kepala keluarga, beliau menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Beliau bekerja sebagai seorang manajer di perusahaan ternama. Begitu pula istrinya, meskipun terkesan hanya di rumah, Ibu Ratna ternyata menjalankan beberapa bisnis online dimana omzet perbulannya bisa mencapai Rp15.000.000. Dengan latar belakang pekerjaan tersebut, sudah barang tentu kita tahu bahwa mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Akan tetapi, sebagaimana roda terus berputar, kehidupan juga menjalankan perannya. Pak Handi tertangkap basah melakukan tindak korupsi berupa penggelapan uang. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, kehidupan mereka berubah drastis. Tidak ada rumah mewah, kendaraan, makanan enak, belanja, hiburan, dan segala kebutuhan lain yang mulanya mudah untuk mereka cukupi. Akhirnya, Pak Handi beserta istri dan anaknya berpindah ke desa untuk memulai kehidupan yang baru.
“Ayah, bagaimana ini.. Kita sudah tidak punya uang lagi,” keluh Bu Ratna.
“Maafkan ayah, Bu. Kita harus membuka lembaran baru. Ayah sangat merasa bersalah sama Ibu dan Eni. Maafkan Ayah.” Ungkap Pak Handi dengan mata berkaca-kaca. Bagaimanapun juga, penyesalan memang biasa terjadi di akhir.
“Begini saja, Yah. Kita kan masih ada tabungan Rp10.000.000. Bagaimana kalau uang itu kita jadikan modal untuk membuka usaha? Kebetulan ibu kan bisa masak, kita bisa buka warung depan kontrakan, Yah.” Kata Bu Ratna menenangkan.
“Ah, jangan, Bu. Itu kan tabungan ibu buat jaga-jaga sekolah Eni. Untuk modal kita bisa pakai cara lain. Ayah yang akan cari, Bu,” sahut Ayah keberatan. Wajahnya seakan tidak tega melihat tabungan istrinya juga akan terpakai. Bu Ratna sebenarnya kecewa dengan tanggapan suaminya. Meskipun bersalah, Bu Ratna tidak ingin membuat suaminya semakin tertekan. Dia ingin bersama-sama berjuang salah satunya dengan mengikhlaskan uang tabungannya sebagai modal usaha yang belum tentu berhasil.
“Tapi, Yah.. Eni kan masih SD. Lagipula, SD sekarang ini sudah dibebaskan biayanya oleh pemerintah. Tabungan ini kan buat jaga-jaga juga, Yah. Yaa contohnya dalam kondisi darurat seperti ini,” sanggah Bu Ratna.
“Tetap tidak bisa, Bu. Ini kesalahan Ayah, biar Ayah yang bertanggungjawab. Beri Ayah waktu satu minggu untuk mencari modal, Bu.”
Diskusi tersebut pun terhenti saat Pak Handi memutuskan masuk kamar terlebih dahulu.  Istrinya masih termenung di luar. Melalui jendela kamar, Pak Handi bisa melihat bagaimana raut wajah istrinya yang pucat dan lelah. Ia merasa kasihan, ujian hidupnya telah menunggu di depan mata.
Sejak perbincangan tersebut, Pak Handi lebih banyak terdiam. Padahal, biasanya ia selalu mengobrol dan bercanda dengan anak istrinya, utamanya ketika waktu makan. Eni pun mulai merasa terganggu dengan kondisi psikologis di keluarganya. Dia mulai bertanya banyak hal, tentang mengapa mereka pindah, mengapa rumah mereka menjadi kecil, mengapa makanannya selalu tahu tempe, tidak pernah daging, dll. Sungguh sulit menjelaskan perubahan ini kepada seorang anak yang belum dewasa.
Selang beberapa hari, Pak Handi belum juga mampu mengumpulkan uang yang cukup. Kesehariannya sebagai tukang ojek dengan sepeda motor sewaan hanya mampu menenuhi kebutuhan makan sehari, itu pun terkang masih kurang. Ia semakin bingung dengan kondisi keluarganya. Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.
“Assalamualaikum, Pak. Ojeknya gimana, Pak?” tanya salah satu tetangga Pak Handi bernama Pak Rojak.
“Waalaikumsalam, Pak Rojak. Iya masih begini-begini saja, Pak. Tapi, alhamdulillah ada dua tiga orang yang mau mengojek dengan saya,” jawab Pak Handi sambil tersenyum.
“Wah, saya punya kenalan, Pak. Dia orangnya baik, biasanya suka ngasih pinjaman begitu. Barangkali Bapak berkenan. Iyaa… kali aja Bapak butuh uang buat modal usaha kan?” kata Pak Rojak sambil menyulut rokok. Asapnya terbang kemana-mana, membuat semakin sesak udara di dunia.
Pak Handi mulai tertarik dengan arah pembicaraan. “Benar begitu, Pak? Kalau bisa tolong segera pertemukan saya dengan beliau. Saya sangat butuh pinjaman itu, Pak.”
“Siap, Pak. Nanti saya segera menelpon teman saya. Kalau besok dia tidak sibuk, nanti sekalian saya antarkan Bapak ke rumah.”
“Wahh, terima kasih banyak, Pak…”
Tanpa sepengetahuan dan izin istrinya, Pak Handi akhirnya meminjam uang sebesar Rp5.000.000 kepada temannya Pak Rojak. Uang tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu satu bulan lengkap beserta bunganya. Dan jika pak Handi tidak bisa melunasi dalam waktu satu bulan, maka bunga pinjaman akan semakin besar. Pak Handi merasa bahwa ia tidak punya pilihan lain. Oleh sebab itu, ia segera menyutujui syarat tersebut tanpa pikir panjang.
“Pak, uang sebanyak ini dari mana?” tanya Bu Ratna memastikan.
“Ayah pinjam, Bu.”
“Pinjam kemana? Ada bunganya juga?
“Iya ada, Bu. Ayah pinjam karena tidak ada pilihan lain. Tidak apa kita coba saja, bunganya hanya 20%. Jika usaha kita berhasil, insyaAllah pasti kita bisa bayar.”
“Astaghfirulloh, Ayah.. ini bukan masalah bisa bayar atau engga. Ini berhubungan dengan riba. Ibu tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti itu.” Ibu meletakkan kembali uang tersebut di atas meja. “Ayah pasti tau, kan? riba itu dilarang dalam Islam. Jangan sampai keluarga kita terlibat dengan yang namanya riba! Ibu tidak ikhlas.” Tambah Bu Ratna.
“Tapi, Ibu. Bagaimana dengan modal usaha kita?”
“Kita bisa memakai tabungan Ibu, insyaAllah lebih berkah. Ibu tidak mau kita kembali ke jalan sesat seperti dulu,” kata Ibu mantap.
“Lalu bagaimana? Ayah sudah setuju dengan kesepakatannya,” sahut Ayah menunduk.
“Kembalikan segera, Ayah. Kita sudah sangat berdosa dengan kesalahan Ayah di masa lampau. Ibu tidak ingin ayah kembali tersesat dalam dosa riba seperti ini..”
“Baiklah, Ibu. Maafkan Ayah yang tidak mengindahkan syariat Islam, Ibu.. Ayah sangat menyesal.”
Hari berikutnya, Pak Handi segera mengembalikan uang tersebut. Beruntung teman Pak Rojak memahami kondisi Pak Handi dan membolehkan ia untuk membatalkan kesepakatan. Mulai saat itu, Pak Handi selalu meminta pertimbangan istrinya dalam mengambil keputusan. Bu Ratna pun akhirnya membuka warung makan menggunakan uang tabungannya. Sedikit demi sedikit, mereka mulai hidup bahagia meskipun sederhana.