Artikel

‘SERDADU’ AMIL: TEKNOLOGI PELACAKAN MUSTAHIK

ARTIKEL 6

Oleh: Romadhon Falaqh (Staf Departemen Riset dan Pengembangan SEF UGM, Ilmu Ekonomi UGM 2015)
Diketahui penyaluran ZIS nasional sejak 2012 selalu lebih kecil daripada total yang terkumpul, alias selalu surplus antara pengumpulan dan penyaluran. Rasio antara yang terkumpul dan tersalurkan pun terus menurun dari tahun ke tahun, kecuali terakhir pada 2016. Anjlokan terbesar terjadi, dari 68% pada 2014 menjadi hanya 27% pada 2015. Berikut nukilan laporan pengumpulan dan penyaluran ZIS nasional tahunan (Baznas, 2015):

Tahun Penerimaan Penyaluran (Defisit)/Surplus dalam Rp Rasio Salur/Terima
2011 Rp 39.401.992.563,94 Rp 39.804.731.212,00 Rp (402.738.648,06) 101%
2012 Rp 50.220.719.886,92 Rp 38.513.551.378,00 Rp 11.707.168.508,92 77%
2013 Rp 59.019.259.845,87 Rp 44.363.070.093,00 Rp 14.656.189.752,87 75%
2014 Rp 82.947.383.165,39 Rp 55.990.121.023,00 Rp 26.957.262.142,39 68%
2015 Rp 98.473.103.020,77 Rp 26.500.542.731,00 Rp 71.972.560.289,77 27%
2016 Rp 111.449.939.350,62 Rp 55.218.768.235,55 Rp 56.231.171.115,07 50%

Dengan demikian, sistem distribusi ZIS selama ini, disinyalisasi terdapat indikasi ketidakoptimalan. Ketidakoptimalan tersebut dapat disebabkan oleh inefisiensi distribusi. Inefisiensi itu berupa kesulitan penangkapan informasi keberadaan mustahik, terutama di daerah pelosok perdesaan (Syukri, 2006 dalam Omar, Yaacob, dan Lubis, 2011). Maka dari itu, pemanfaatan teknologi dibutuhkan agar terjadi improvement sistem pendistribusian zakat (Dahlan, 1998; Syukri 2006; Abdul Halim et. al, 2008 dalam Omar, Yaacob, dan Lubis, 2011). Selanjutnya, akan dimodelkan serdadu amil sebagai bentuk penggunaan teknologi informasi mustahik agar tercipta akselerasi penyaluran ZIS, khususnya zakat, hingga ke pelosok nusantara.
Serdadu amil merupakan sebutan untuk agen amil profesional yang melacak keberadaan mustahik. Mereka akan dihubungkan dengan para amil profesional melalui sebuah platform berbasis aplikasi web dan/atau gawai. Di dalam platform itu, serdadu amil mengunggah segala informasi mustahik yang telah mereka lacak. Setiap amil profesional dapat dengan mudah, mengakses informasi tersebut. Makanya, selain mengandalkan kemampuan pribadi untuk menggapai informasi keberadaan mustahik, amil profesional dapat menambah jangkauan penangkapan informasi tersebut dengan bantuan para serdadu amil.

Lebih lanjut, proses verifikasi ditempuh oleh amil profesional. Proses ini secara penuh menggunakan inteligensi amil yang profesional. Berbeda dengan penerapan financial technology (fintech) dalam kluster market provisioning yang memasukkan inteligensi artifisial, penerapan teknologi informasi serdadu amil ini tetap mengandalkan manusia sebagai decision maker. Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, platform serdadu amil ini masuk ke dalam kluster fungsional market provisioning dalam lingkup teknologi jasa keuangan (fintech), sementara terdapat lima kluster fungsional lainnya, yaitu payment, investment management, insurance, capital raising, dan deposit & lending. Dalam setiap kluster fungsional tersebut, dibagi lagi menjadi kluster-kluster inovasi. Market provisioning memiliki dua buah kluster inovasi: 1. Smarter, Faster Machines (big data, social sentiment, machine readable news, dan artificial inteligence/machine learning), dan 2. New Market Platform (automated data collection & analysis, dan market information platform). Dengan begitu, platform serdadu amil berada di kluster inovasi kedua, khususnya market information platform. Di bawah ini, adalah visualisasi klusterisasi fintech (WEF, 2015):

SATU
Keberadaan teknologi informasi yang melibatkan secara masif masyarakat luas sebagai pelacak informasi mustahik di lapangan, dibutuhkan formulasi aturan yang meminimalisasi moral hazard. Untuk itu, setelah verifikasi dilakukan oleh seorang amil profesional, status informasi mustahik dari seorang serdadu akan ditentukan. Jika informasi valid, serdadu amil akan mendapatkan komisi atas kinerjanya. Komisi diambil sebagian dari jatah zakat yang menjadi hak si amil profesional itu. Jika serdadu tersebut hanya menampilkan informasi yang asal-asalan, amil profesional berhak men-suspend akun serdadu itu di dalam sistem. Jadi, sistem teknologi informasi ini menerapkan insentif dan disinsentif untuk menanggulangi moral hazard.

Akselerasi penyaluran distribusi berpotensi besar terealisasi ketika sumber-sumber informasi keberadaan mustahik tersiarkan secara efisien melalui teknologi informasi. Efisiensi distribusi zakat pun dapat dicapai lebih realistis, ketika biaya menangkap informasi mustahik di pelosok nusantara telah ditekan secara signifikan. Manajemen zakat yang efektif dan efisien menarik masyarakat muzaki untuk menyerahkan dana zakat kepada lembaga amil zakat, karena masyarakat memang mencari yang seperti itu (Omar, Yaacob, dan Lubis, 2011). Dengan demikian, keberadaan teknologi seperti serdadu amil dapat mendorong semangat berzakat masyarakat. Selain itu, perolehan informasi mustahik yang efisien juga dapat menjadi bahan pemutakhiran data kemiskinan nasional yang membantu pemerintah untuk menyasarkan lebih tepat sejumlah kebijakan pro masyarakat miskin. Pada akhirnya, zakat bersama instrumen pengentasan kemiskinan ala pemerintah bersama-sama didistribusikan secara tepat sasaran yang berimbas pada ketimpangan sosial ekonomi semakin nyata ditekan.

Referensi:
Baznas. (2015). Buku Statistik Zakat Nasional 2015. Jakarta: Badan Amil Zakat Nasional.
Lubis, M., Bilal, M., Lumpur, K., Yaacob, N. I., Omar, Y., Dahlan, A. a, … Abdurrahman A. Dahlan. (2011). Enhancement of Zakat Distribution Management System : Case Study in Malaysia. International Management Conference 2011 Proceedings, 1–10. Retrieved from http://irep.iium.edu.my/4261/1/IMAC2011_EnhancementZakatDistribution.pdf
WEF. (2015). The Future of Financial Services – How disruptive innovations are reshaping the way financial services are structured , provisioned and consumed. World Economic Forum, (June), 1–178. https://doi.org/10.1108/14636680410562972